Monolog 1
Dia adalah laki-laki yang aku temui ketika hati ini telah bersungguh-sungguh pasrah menyerahkan kepadaNya, siapa yang terbaik menurutNya untuk menjadi pendamping hidup dalam sisa umurku.
And my feeling said that he’s the one. But at that time, the condition didn’t allow me to freely express what I’m feeling. So, i said to myself that i will be the very best friend for him. Be there when he needed someone to talk to.
Saat itu dia tengah berjuang dengan permasalahan yang dihadapinya. Aku tahu aku tidak bisa berbuat sesuatu untuk membantunya, aku hanya bisa menjadi pendengar terbaik yang akan selalu menerimanya, bahkan ketika dunianya berpaling.
Monolog 2
Dia adalah perempuan yang aku temui ketika hati ini menginginkan sebuah ketenangan. Saat ketika aku bersungguh-sungguh memohon kepadaNya untuk memberikan aku jodoh terbaik yang dapat memberikanku kedamaian dalam hidup. Seseorang yang dapat menerimaku apa adanya.
And I felt so comfort everytime i was having my times with her, although it’s just a silly conversation, talking about our favorite group band when we were young. She gives me something that makes me scared alright. I always love to see her smile.
Dan pernyataan yang sering terungkap saat itu adalah “kenapa kita tidak bertemu dari dulu?”. Padahal kita semua tahu bahwa waktu tidak pernah bisa berputar kembali. Aku ingin bersamanya.
Scene 1 : Ullen Sentalu, Yogyakarta
Monolog 1
This is one of the best moment that i’ve ever had in my life. Dia mengajakku mengunjungi sebuah museum sejarah yang menyimpan cerita tentang Majapahit dan Mataram Jawa. Kemudian menunggu malam dan bintang-bintang.
Hanya senyap diantara aku dan dia, menikmati waktu dan suasana. Aku suka melihat bintang, terlebih malam itu.
Monolog 2
Aku belum pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, tempat yang menurutnya indah karena menyimpan cerita-cerita tentang sejarah. Kebetulan yang menyenangkan, karena sejarah menjadi sesuatu yang membuatnya excited.
Ketika malam menjemput, aku memperlihatkannya rasi bintang yang kutemukan dan kuberi nama sendiri. Dia hanya tersenyum. Ada sesuatu yang ingin kuberikan lagi kepadanya, tapi tidak kulakukan. Hanya bisa mengatakan padanya, if it’s a dream, then i wont wake up.
Monolog 1 & 2
Allah memberi kami ujian untuk mengukur seberapa dalam keyakinan kami terhadap sesuatu yang telah kami pilih. Mungkin juga Dia menginginkan kami belajar bersama tentang sebuah kesalahan yang kami lakukan. Bukankah hanya Dia yang mampu membolak-balik hati kami.
Keyakinan itu harus kembali pada kami sendiri, untuk memutuskan sebuah pilihan besar tentang pendamping hidup. Tapi kami tahu harus memasrahkan ini kepadaNya, hingga akhirnya seiring berjalannya waktu kami mendapat jawaban dalam diri kami masing-masing tentang sebuah pilihan yang hati kita yakini bahwa itu adalah yang terbaik.
Kami yakin, karena hati ini tenang.
Scene 2 : Our Home
Monolog 1
Saat ketika aku dan dia bisa bicara dari hati ke hati adalah saat bagiku merasa bahwa sebenarnya kami mempunyai keyakinan yang sama, segala sesuatunya merupakan proses kami belajar memahami satu sama lain. Now i have The Ultimate version of him, what a lucky girl.
Monolog 2
Jika aku dan dia melihat kembali apa yang ada dalam hati kami masing-masing, kami tahu dengan pasti bahwa pilihan ini memang sudah tepat. Pilihanku untuk memilihnya sebagai pendamping hidup adalah tepat, karena aku yakin dia akan selalu menyayangiku dan medampingiku hingga akhir waktu.
.
.
.
Kini, kami dalam satu hati.



