Allah mempertemukan Adhi dan Jessti untuk pertama kalinya pada bulan Desember 2007 suatu acara alumni di Balai Kartini – Jakarta, just because we’re graduated from the same high school in Magelang. Adhi Wibowo tercatat sebagai alumni angkatan VIII, sedangkan Widia Jessti rada jauh dibawahnya, angkatan XI, beda 3 angkatan (tapi secara umur sih beda 4 tahun), jadi kita belum ketemu waktu es-em-a..*yang ada di bayangan sih, kali aja ni abang bakal ikutan ngerjain aku waktu tes Tonpara..hahahahha…alhamdulillah ga ketemu dulu, ternyata banyak hikmahnya..:p*
Meskipun sebenernya menurut Bang Adhi (masi pake “abang” gitu manggilnya, tradisi es-em-a ni..), kita sebelumnya pernah ketemu di acara nikahan angkatan VIII di Menara Bidakara, tapi jelas Jessti ga ngeh kalo waktu itu dah ketemu Bang Adhi, hehehe..
Kelanjutan dari post kali ini adalah versi Jessti..^_^
Padahal ada beberapa alumni angkatan VIII yang udah aku kenal lebih dulu, malah sebelumnya dah pernah ngumpul sama beberapa abang angkatan VIII sebelum acara paparan Visi Indonesia 2030 *dalam hati waktu itu, hebat juga ni abang2, pada serius bahas temanya sebelum acara*
Tapi…masi belum ada Adhi Wibowo, hehehe..
Jangan dikira cerita berlanjut setelah itu, baru setelah sekian lama kita baru ketemu lagi bulan Mei 2008 pas nonton IBL di Kelapa Gading, just because we had the same interest about basketball.
And after that, life brought us some memories and also run our emotionally up and down..
Tapi bukan hidup kan, kalo cuma ada kebahagiaan, kita pasti akan diberikan kesempatan oleh-Nya untuk merasakan apa itu “sedih”, apa itu “kecewa”, atau rasa hidup lainnya..sometimes our life taste like strawberry..*kan seru tuh, campuran asem sama manis, hehe..*
Semua itulah yang pada akhirnya membawa adhijessti pada satu fase hidup yang ada saat ini, dan segala sesuatu yang telah kami lewati, insyaallah akan membuat kami, aku khususnya, lebih memahami satu sama lain dan bisa terus belajar untuk menghadapi hari esok yang lebih baik..for a brighter future..*saaaahhhh..*
For me, Adhi Wibowo always reminds me of this..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada..
(taken from “Aku Ingin” by Sapardi Djoko Damono)